Pernahkah terpikir oleh manusia untuk merencanakan harus kepada siapa dia jatuh cinta? Harus kepada siapa belahan jiwanya diberikan? Apakah cinta direncanakan?
Aku tak tahu apakah ini cinta ataukah hanya cinta sesaat yang hinggap. Yang pasti kehadirannya selalu kunantikan. Karena hadirnya mampu memberikan atmosfir positif bagi kehidupanku, menyuntikkan energi semangat kepadaku, membangun pondasi-pondasi kekuatan di benteng pertahananku, menggoreskan coretan-coretan motivasi di dinding harapanku.
Aku sadar, rasa ini tidak seharusnya bersemayam di hatiku. Tidak seharusnya kupupuk dengan doa-doa harapan untuk bisa mengenalnya. Karena aku sadar rasa ini bisa membuatku menduakan Cinta-Nya. Tapi, semakin ku coba untuk menghindarinya semakin besar pula rasa ini mengejarku. Semakin bersemangat aku melupakannya semakin erat ia memelukkku. Salahkah aku dengan rasa ini? Rasa yang pasti dirasakan
oleh mahkluk ciptaan-NYA.
Apakah cinta direncanakan? Jawabanku tidak. Karena aku tidak pernah merencanakan untuk menumbuhkan rasa ini. Andai cinta ini seperti angin akan kuterbangkan ke angkasa agar pergi bersama luka. Andai cinta ini seperti air, kan kualirkan ke samudera biar pergi dan tidak menyiksa. Tapi ternyata rasa ini telah menjalari syaraf-syaraf di dalam tubuhku, dan aku tak bisa untuk melupakannya, walau hanya sekedar untuk menghapus bayangannya.
Dan pagi ini masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Pagi dimana aku bisa bertemu pandang dengan objek dari rasaku ini.
“Roti . . . roti . . . roti . . .”, di mana suaranya yang lantang menggema pagi yang sunyi.
Yah, dia hanya seorang tukang roti. Tukang roti yang saban pagi melewati kostku. Tukang roti yang berhasil menebar racun cinta menembus jantung hatiku. Aku tidak tahu sejak kapan rasa ini bersemayam di hatiku. Yang aku ingat hanya pertemuan itu.
“Kenapa sih pagi gini udah ribut-ribut”, ujarku sambil membuka pintu. Dengan tubuh yang masih berbalut mukena sehabis sholat Shubuh, kulangkahkan kaki menuju arah datangnya suara gaduh yang tidak jauh dari depan kostku.
“Ya ampun”, ujar sisi kemanusiaanku melihat apa yang terjadi. Seorang yang menurut warga sekitar kostku ini agak kurang akalnya sedang dipukuli oleh 5 pemuda yang dari jauh saja sudah tercium bau alkohol. Tidak ada satu pun warga yang terketuk hatinya untuk memberikan pembelaan kepada orang yang kini sedang menahan kesakitan itu. Entah dari mana keberanianku muncul untuk menolong pak tua yang tidak bersalah itu.
Tapi, baru saja aku akan melangkahkan kaki, sebuah suara mengejutkan mereka yang sedang beraksi.
“Hentikan!”
“Eh kamu gak usah ikut campur ya. Mau mati ya?” ujar seorang lelaki sambil sempoyongan.
“Dia tuh gak salah” ujar pemuda berani itu.
“Tapi, dia udah buat sepeda motor kami, rusak. Emang kamu mau ganti, ha?” ujar temannya yang lebih kekar dan sangar. Aku yang berdiri tak jauh dari situ saja bergidik melihat tato memenuhi lengannya yang berisi itu.
“Bukan dia yang salah, tapi kalian yang menabraknya”, ujarnya lantang tanpa ketakutan sedikit pun.
“ Eh kamu jangan belagu ya!” ujar laki-laki sangar itu sambil menendang gerobak rotinya, yang sekali tendang saja sudah membuat penghuni gerobak itu bercecer ke mana-mana. Kalau saja tidak datang pak RT bersama petugas keamanan, pasti peristiwa itu tidak akan game over. Dalam hitungan detik pemuda-pemuda itu telah pergi meningggalkan tempat. Dan kini hanya pemuda itu yang masih berdiri di sana. Apakah dia menyesali roti-roti yang tidak akan berganti dengan uang tapi menjadi hiasan tanah? ujarku dalam hati.
“Gak apa-apa Pak. Mungkin memang saatnya tanah ini yang menikmati enaknya roti saya.” Ujarnya tanpa sesal sedikit pun ketika pak RT menanyakan seperti yang terbersit di hatiku.
“Jadi beli rotinya Kak?” ucapnya memutus peristiwa yang terjadi seminggu yang lalu.
Kini dia sudah berdiri tepat di hadapanku. Wajahnya yang teduh mampu menyejukan hati, tersirat di sana kebaikan pekerti sang pemiliknya. Kaca yang melekat di matanya membuatnya kelihatan lebih dewasa. Jenggot tipis yang berbaris rapi di dagunya membuat dia semakin sempurna di pandang mata. Pakaiannya yang selalu bersih dan rapi membuat siapa saja yang melihatnya pasti tidak percaya bahwa dia hanya seorang tukang roti. Dia lebih cocok menjadi mahasiswa.
“Jadi beli roti Kak?” tanyanya lagi.
Zzz . . .zzz . . .aliran rasa yang aneh ketika tanpa sengaja mataku bersirobok dengan mata elangnya yang bersembunyi di balik kaca mata minusnya. Debaran indah mengalir lembut ke relung hatiku. Menyebar dan menggetarkan sendi-sendi yang tertata rapi kini telah porak-poranda oleh badai cinta.
“Astaghfirullah” ucapku lirih mengalihkan pandanganku. Begitu juga dengan dia yang tidak sengaja tertangkap oleh ekor mataku membuang wajahnya
“Ada roti isi mocca?”
“Ada”
“Roti isi coklat?”
“Ada”
“Roti . . .”
“Semuanya ada” ucapnya memotong ucapanku.
“Kakak mau roti apa?” ucapnya lagi.
“Roti . . . “ kenapa otakku tak bisa berpikir untuk memutuskan roti apa yang akan kubeli.
Apa karena aku terlalu gugup?
“Ehm . . .roti isi blueberry “ jawabku akhirnya. Dengan cepat kuberikan uangnya dan aku cepat-cepat pergi meninggalkannya.
# # #
Rahma dengan tidak sopan terbahak-terbahak di depanku saat aku bercerita tentang si tukang roti yang berhasil mencuri bagian terpenting dalam hidupku. Aku jadi menyesal telah membongkar rahasia yang selama ini berhasil tidak ada yang tahu.
“ Afwan- afwan, aku tak bermaksud melukai hatimu’’ ucapnya saat melihat wajahku kutekuk seribu.
“ Aku tak percaya bahwa Fathiya Rumaisha bisa jatuh cinta sama tukang roti” tuturnya jujur.
“ Emangnya tidak aku tidak boleh jatuh cinta”
“ Bukan gitu maksudnya. Cinta itu kan fitrahnya manusia jadi setiap orang pasti pernah mengalaminya yang namanya falling in love. Justru kalau kamu tidak pernah jatuh cinta aku makin takut sama kamu. Jangan- jangan kamu .aduh . . .” dia menjerit saat cubitanku mendarat di pinggangnya.
“Aduh sakit tahu!” ucapnya memegang pinggang yang jadi sasaranku. Aku hanya manyun sendiri. Salah siapa menerkaku yang tidak-tidak.
“Terus gimana?” tanyaku sambil memperbaiki tempat dudukku tepat di depannya menunggu apa yang akan di sampaikan oleh sahabat terbaikku.
“ Begini ya” ucapnya serius “Biasanya gadis yang berjilbab seperti kita akan jatuh cinta sama orang yang sefikroh dengan kita. Kenapa sih kamu gak jatuh cinta sama Ridho yang hapal 20 juz, sama Hafiz yang jago orator. Sama Ahmad, Ridwan, Abdullah atau yang kayak merekalah. Tapi kamu ini malah jatuh cinta sama tukang roti” jujur Rahma. Aku hanya terdiam, membenarkan ucapan Rahma. Bahwa semua yang disebutkan Rahma adalah pemuda yang baik dan berprestasi dikampus. Tapi tidak ada perencanaan dalam cinta, ucap hatiku.
“Siapa namanya?”
Aku hanya menggeleng menjawab pertanyaan darinya.
‘’Nama pun kamu tidak tahu? Bagaimana bisa kamu jatuh cinta padanya?” Tanya Rahma heran.
“Karena peristiwa bla . . . bla . . .”kuceritakan peristiwa pertama kali aku mengenal si tukang roti itu. Rahma memelukku mengurangi sakit yang kurasakan.
# # #
Cinta, luka, bahagia, dan duka adalah rasa-rasa yang silih berganti bergelayut di hati sang pencinta. Ya, akulah sang pencinta itu yang mencoba tegar seperti karang tapi juga rapuh seperti salju yang terkena panasnya mentari Andai cinta ini seperti angin akan kuterbangkan ke angkasa agar pergi bersama luka. Andai cinta ini seperti air, kan kualirkan ke samudera biar pergi dan tak menyiksa. Dan aku akan menjaga cinta ini sampai kapan pun, itu keputusan hatikuWaktu berjalan masih seperti biasa tidak ada yang istmewa kecuali rasa gugupku yang tidak pernah hilang jika aku bertemu dengan sang pencuri hati. Aku ingin sekali berbicara dengannya. Ingin mengenal siapa namanya? Di mana rumahnya? Tapi, semua keinginanku itu hanya mengendap di hati yang terdalam. Aku masih tetap mengaguminya dari jauh tanpa sedikit pun dia tahu akan hal ini.
Tapi, sebulan terakhir ini aku tidak pernah lagi meihatnya mendorong gerobaknya. Apa dia sudah mendapatkan pekerjaan yang lain? Apa dia sakit hingga tidak bisa berjualan lagi? Apa dia? seribu pertanyaan berputar di kepalaku.Tapi, tidak hanya sebulan dia menghilang. Dua bulan, tiga bulan hingga berbulan-bulan dia tidak pernah hadir lagi. Aku kehilangan jejak tentang dirinya, kuputuskan untuk melupakannya walau aku sadar itu pasti sulit. Dan hingga aku wisuda meninggalkan kost yang penuh dengan cerita.
“Kak Dian akan menikah” jelas bunda bahagia sambil menunjukkan foto calon abang iparku. “namanya Aqil Al Banna. Dia itu sarjana lulusan perguruan Islam. Kamu tahukan bunda ingin sekali melihat kak Dian berubah jadi orang yang baik. Mau pakai jilbab kayak kamu, makanya ketika ada yang melamar seorang ustad bunda langsung mengiyakan. Dan untungnya kak Dian langsung Mau. Jadi, bunda senang sekali” ujar bunda menangis bahagia.
Aku juga ikut menangis mendengar penuturan dari bunda, tapi alasanku berbeda dengan bunda.. Kalau bunda menangis karena anak sulungnya yang hobinya keluyuran dan bergaya kayak artis itu akan menikah dengan seorang pemuda yang diennya baik, menurut bunda. Aku menangis karena calon kak Dian adalah orang yang wajahnya telah terpahat di dinding hatiku.
Yah, dia adalah tukang roti itu yang ternyata bernama Aqil Al Banna lulusan kampus tetanggaku, IAIN. Dia kuliah sambil berjualan roti. Dan kini dia sudah bekerja di sebuah Bank Syar’iah di Medan. Begitu cerita bunda kepadaku. Sakit yang kurasakan begitu perih dan tajam menusuk tepat di jantung hatiku. Apa aku siap jika dia memanggil dengan sebutan adik ipar padaku? Apa aku siap jika kami harus dalam lindungan atap yang sama? Apa aku siap jika melihatnya bersanding dengan kakak tercintaku?. Kenapa harus ada luka dalam cinta? Apa cinta memang harus menyakitkan? Lalu untuk apa cinta ini harus kurasakan jika bukan bahagia yang kudapat tapi justru luka yang menyiksa.
“Barangsiapa yang jatuh cinta lalu dia menyembunyikan cintanya maka jika dia mati dia akan mati syahid” ucapan Rahma sedikit memberikan motivasi di hidupku yang kurasakan sangat menyedihkan.
“Ya Allah, bantullah hamba yang kerdil ini. Karena hamba yakin ini semua Engkaulah yang telah mengaturnya”, doaku dalam hati yang paling dalam.
Hari ini adalah hari yang sangat menyakitkan bagiku. Hari di mana kak Dian dan Aqil sang tukang roti itu sah menjadi sepasang kekasih. Apa yang bisa kulakukan selain doa dalam hati, dan berharap bisa menemukan “tukang roti” yang lain. Walau perih yang kurasa semakin perih, walau sakit ini semakin menganga dan semakin terluka. Tapi aku harus bisa, ucapku lemah tidakberdaya.
Kudengar suara bunda berteriak histeris dari kamar kak Dian. Ada apa ya? ucapku. Kuletakkan abaya hijau yang akan kupakai pada resepsi pernikahan nanti.
“Bunda kenapa?” tanyaku melihat bunda menangis. Bunda hanya menyerahkan sebuah kertas padaku. Di kertas yang bertulisan warna merah itu tertulis bahwa kak Dian pergi bersama pacarnya dan tidak mau menikah dengan si tukang roti itu. “Ah kak Dian, kenapa kamu tega melakukan ini pada kami, terutama pada bunda. Kenapa kamu berikan bahagia sesaat buat bunda? Kenapa tidak kakak katakan saja jika kakak menolak lamaran ini? Kenapa kak?” ucap hatiku . Itu artinya mereka tidak jadi menikah, bagaimana dengan bunda yang sedetik kemudian tidak sadarkan diri?.
“Thiya mau menikah dengan si Aqil?” ucap bunda mengharap sangat padaku saat beliau sudah siuman. Cobaan ataukah bahagiakah ini? Tanyaku dalam hati. Tapi menatap mata bunda aku tidak mungkin bisa menolaknya. Aku tahu apa yang bunda rasakan, bunda pasti sedih dan sangat kecewa. Padahal satu jam lagi seharusnya akad nikah itu terjadi. Aku mencari kekuatan lewat pelukan ayah, kutumpahkan tangisku di pundak kekarnya.
“Sayang jangan permalukan kami”, hanya itu ucapan ayah. Aku hanya menundukkan kepala tanda iya.
Dan kini aku sudah berada di kamar yang seharusnya menjadi kamar kak Dian dan dia, yang sekarang duduk di tepi ranjang sambil menundukkan kepala. Apa dia menyesal mengucapkan akad nikah tadi? Karena seharusnya bukan aku yang di pilihnya. Ya Allah aku bahagia bisa menjadi miliknya. Tapi, aku lebih bahagia jika melihatnya bahagia bersanding dengan orang lain walaupun itu dengan kakak kandungku.
“Kenapa?” ucapnya.
“Aku . . .”
“Apa kamu menyesal menggantikan kakakmu?”
“Bukan aku yang menyesal tapi kamu”
“ Ya aku menyesal karena telah membuatmu menderita. Kamu pasti terpaksa melakukan ini. Padahal aku ikhlas jika pernikahan ini di batalkan.”
“Maksud kamu?”
“Sebenarnya aku dulu berniat untuk mengkhitbahmu. Tapi aku tidak banyak tahu tentang kamu. Ketika aku lulus kuliah aku ingin melakukan niat itu tapi aku sadar aku hanya tukang roti yang gajinya juga tak seberapa. Jadi, niat itu aku pendam. Aku mencari pekerjaan sesuai ijazah yang aku punya. Dan Alhamdulilah aku mendapat kerja. Tapi, ketika aku mencari ke kostmu. Kamu sudah wisuda dan tidak kost di situ lagi. Aku mencari info tentangmu. Dari tetangga kostmu dulu kutemukan tentang dirimu. Dan aku beranikan diri untuk datang kerumahmu. Aku bahagia ketika orang tuamu menyetujui lamaranku, aku tak tahu kalau kakakmu lah yang akan dinikahkan denganku. Mungkin salahku yang tidak menyebut namamu ketika melamar hanya melamar putri ibu, itu yang kukatakan. Dan aku tidak pernah tahu bahwa kamu punya kakak. Aku ingin membatalkan lamaranku tapi itu tidak mungkin karena waktunya sudah dekat sekali. Dan kini engkaulah yang ada di hadapanku” ucapnya panjang lebar sambil masih menundukkan wajahnya yang teduh itu. Aku terdiam tanpa kata, “Ya Allah apa lagi ini?” tanya hatiku. Banyak peristiwa yang membuat hatiku tidak percaya aku bisa melewatinya. Aku bahagia, bahagia yang menyesakkan dada hinggap aku tidak sanggup berkata apapun menyampaikan rasa bahagiaku ini.
“Sejak kapan kamu menyukaiku?” gugup itu tidak pernah hilang.
“ Beli roti Kak?” ucapnya mengingatkanku tentang pertemuan kami dulu.
“Ada roti isi mocca?”
“Ada”
“Roti isi coklat?”
“Ada”
“Roti . . .”
“Semuanya ada” ucapnya memotong ucapanku.
“Kakak mau roti apa?” ucapnya lagi.
“Roti . . .”
“Pasti roti isi blueberry” ucapnya yakin.
“Bukan” jawabku lantang.
“Jadi?’’tanyanya penuh serius.
“Saya mau penjual rotinya”. Ucapku mantap, dia terheran tapi kemudian sesungging senyum menghias di bibirnya. Ah . . . indahnya, senikmat roti cinta dari sang Maha Daya cinta. Apa ini yang dirasakan oleh Ali Bin Abi Thalib saat mendengar ucapan Ahlan wa sahlan dari Rasulullah atas lamarannya kepada Fatimah.
Wamma tadrii nafsun madzaa taksibu ghadan ( tiadalah jiwa itu akan tahu apa yang akan berlaku baginya pada hari esok).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar